Kamis, 02 Januari 2014

PERBANDINGAN JARINGAN WIRELESS DAN SATELITE

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kemajuan teknologi telekomunikasi yang berkembang dengan pesat seiring dengan era
globalisasi yang sedang melanda dunia. Sistem telekomunikasi digital telah membawa era baru
dalam bidang telekomunikasi. Perkembangan teknologi informasi dalam jaringan telekomunikasi
telah membuat suatu dimensi-dimensi baru dalam pelayanan telekomunikasi yang semakin cepat
murah.


Para user/pengguna menginginkan akses berkomunikasi secara multimedia, di mana saja
dan kapan saja dengan biaya yang relatif murah dan juga dapat mengakses informasi dalam
jaringan komputer global bukan hanya teks atau data tapi juga gambar bahkan animasi. Teknologi
wireless maupun satellite mampu memberikan hal itu semua.
Namun apa yang terjadi ketika kita harus memilih teknologi mana yang akan digunakan.
Hal ini terkadang memberikan masalah besar, baik itu dari segi keuangan dan segi kebutuhan
serta unjuk kerja.


1.2 Tujuan
Tujuan dari tulisan ini adalah bagaimana menentukan apa yang sebaiknya harus dilakukan
ketika kita akan menghubungkan satu daerah dengan layanan komunikasi, apakah dengan wireless atau dengan satelit.                                     


1.3 Metode Penelitian
Metode penelitian yang dipakai adalah literature, yaitu penelusuran berbagi buku, jurnal, artikel, serta sumber yang berasal dari internet


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Media Transmisi
Media/saluran transmisi terletak di bawah physical layer. Merupakan jalur transmisi sinyal yang
terbentuk di physical layer
Media tranmisi memiliki 2 bentuk yaitu :



1. Guided Media
Menyediakan jalur transmisi sinyal yang terbatas secara fisik, meliputi twisted-pair
cable, coaxial cable (kabel koaksial) dan fiber-optic cable (kabel serat optik). Sinyal yang
melewati media-media tersebut diarahkan dan dibatasi oleh batas fisik media. Twisted-pair
dan coaxial cable menggunakan konduktor logam yang menerima dan mentransmisikan
sinyal dalam bentuk aliran listrik. Optical fiber/serat optik menerima dan mentransmisikan
sinyal data dalam bentuk cahaya.


2. Unguided media
Unguided media atau komunikasi tanpa kabel mentransmisikan gelombang
elektromagnetik tanpa menggunakan konduktor secara fisik. Sinyal dikirimkan secara
broadcast melalui udara (atau air, dalam beberapa kasus). Media tranmisi ini dapat
menggunakan wireless atau menggunakan satellite.



2.2 Wireless
IEEE (Institute of Electrical and Electronic Engineers) melakukan diskusi, riset dan
pengembangan terhadap perangkat jaringan yang kemudian menjadi standarisasi untuk digunakan
sebagai perangkat jaringan. Salah satu standar yang dikeluarkan adalah 802.11 yang bekerja di
bidang wireless LAN (Wi-Fi).
Perkembangan Standar 802.11
http://3.bp.blogspot.com/-evIhp_l_BLE/UmD0BBCFAqI/AAAAAAAAAHk/eppqZ_lpkpo/s320/1.png
http://2.bp.blogspot.com/-yCJIiHE4RjM/UmD0Gp_LgtI/AAAAAAAAAHs/ZdFZ6EzS-2I/s320/2.png

http://1.bp.blogspot.com/-2yRc8yTPejc/UmD0QsHMNsI/AAAAAAAAAH0/iqu8YfoazGE/s320/3.png

http://3.bp.blogspot.com/-EaY9ZyIGF5M/UmD0X4vKnDI/AAAAAAAAAH8/-UdCFtN6SBY/s320/4.png
Perbandingan Teknologi 802.11 a & b
2.2.1 Topologi Wireless Network

1. AD Hoc
Merupakan jaringan sederhana dimana komunikasi terjadi diantara 2 perangkat
atau lebih pada cakupan area tertentu tanpa harus memerlukan sebuah access point
atau server.

2. Client / Server
Menggunakan Access Point sebagai pengatur alokasi waktu transmisi untuk
semua perangkat jaringan dan mengizinkan perangkat mobile melakukan proses
roaming dari sel ke sel.
http://3.bp.blogspot.com/-jlSVEg8Y-KI/UmD0olSiB-I/AAAAAAAAAIE/SuQ39PoYl8M/s320/5.png
Ad-Hoc or Peer-to Peer Networking
http://1.bp.blogspot.com/-GorJ_7TeBdc/UmD0vxmKghI/AAAAAAAAAIM/7UzOP1uEJsM/s320/6.png
Client Server with Access poin
2.2.2 Access Point

Digunakan untuk melakukan pengaturan lalulintas jaringan dari mobile radio ke
jaringan kabel atau dari backbone jaringan wireless client/server.
Biasanya berbentuk kotak kecil dengan 1 atau 2 antena kecil. Peralatan ini merupakan radio
based, berupa receiver dan transmiter yang akan terkoneksi dengan LAN kabel atau
broadband ethernet.


2.2.3 Hotspot
Hotspot merupakan coverage area yang dimiliki access point agar komputer dgn
perangkat wireless disekitar dapat terkoneksi internet. Hotspot menyediakan layanan
wireless LAN dan internet secara gratis maupun dengan biaya.

Area Hotspot biasanya menggunakan tempat area umum (seperti ruang lobby, area
parkir, kantin dll) agar perangkat WLAN yang digunakan user bisa melakukan akses
kelayanan Access Point.

Ada 3 range frekuensi umum yang dalam tranmisi wireless yaitu :
1. Frekuensi microwave dengan range 2 – 40 GHz, cocok untuk tranmisi point-topoint.

2. Frekuensi dalam range 30 MHz – 1 GHz, cocok untuk aplikasi omnidirectional.
Range ini ditujuan untuk range broadcast radio.

3. Range frekuensi lain yaitu antara 300 – 200000 GHz untuk aplikasi local, adalah
spectrum infra merah. Infra merah sangat berguna untuk aplikasi point-to-point dan
multipoint dalam area terbatas, seperti sebuah ruangan.

2.2.4 Jenis tranmisi wireless
Microwave
Microwave merupakan high-end dari RF (Radio Frequency), sekitar 1 – 30 GHz.
Transmisi dengan microwave memberikan 3 hal yang perlu diperhatikan :
· Alokasi frekuensi
· Interference, Keamanan
· Harus straight-line (perambatan line-of sight)
· Jarak tanpa repeater anatar 10 – 100 km


Radio
Arah tranmisi omni directional

Infrared
Dipenuhi dengan menggunakan transmitter/receiver yang memodulasikan no
coherent infrared light. Transceiver harus dengan suatu bentuk garis lurus atau melalui
pantulan dari suatu permukaan warna yang bercahaya

Bluetooth
Sebuah teknologi wireless yang mampu menyediakan layanan komunikasi data dan
suara dengan jarak jangkauan yang terbatas.
Gelombang radio untuk komunikasi ini dapat terdiri dari berbagai frekwensi seperti :


a) VLF(Very Low Frequency) dan LF (Low Frequency)
Sinyal-sinyal ini dipropagasikan sangat dekat dengan permukan bumi, tidak dapat
melewati objek yang padat dan digunakan dalam navigasi radio jarak jauh.

b) MF (Medium Frequency) dan HF (High Frequency)
Sinyal-sinyal ini dikirimkan lewat udara dan memantul kembali ke bumi.
Digunakan untuk komunikasi jarak jauh.

c) VHF (Very High Frequency) dan UHF (Ultra High Frequency)
Sinyal-sinyal ini biasanya dikirimkan secara line of sight. Digunakan pada
terrestrial, satellite dan komunikasi dengan radar.

2.3 Satelit
Satelit adalah alat elektronik yang mengorbit bumi yang mampu bertahan sendiri. Bisa diartikan
sebagai repeater yang berfungsi untuk menerima signal gelombang microwave dari stasiun bumi,
ditranslasikan frequensinya, kemudian diperkuat untuk dipancarkan kembali ke arah bumi sesuai
dengan coveragenya yang merupakan lokasi stasiun bumi tujuan atau penerima. (sumber :
http://www.total.or.id/info.php?kk=satelit)
Bagian penting dalam sistem komunikasi satelit yaitu :
1. Space segment (bagian yang berada di angkasa)
2. Ground segment (biasa disebut stasiun bumi)


http://4.bp.blogspot.com/-Eu23RhdXTfw/UmD0_i6atOI/AAAAAAAAAIU/TO6OdKA91P0/s320/7.png

http://4.bp.blogspot.com/-TTUIkSfMB0s/UmD1NmK0q7I/AAAAAAAAAIc/uUGZO9nB0dU/s320/8.png
Satellite merupakan sebuah repeater data yang mampu mengirim data ke tempat tujuan berupa
down-link.

2.3.1 Jenis-jenis Orbit
Banyak satelit dikategorikan atas ketinggian orbitnya, meskipun sebuah satelit
bisa mengorbit dengan ketinggian berapa pun.
1. Orbit Rendah (Low Earth Orbit, LEO): 300 – 1500 km di atas permukaan bumi.
2. Orbit Menengah (Medium Earth Orbit, MEO): 1500 - 36000 km.
3. Orbit Geosinkron (Geosynchronous Orbit, GSO): sekitar 36000 km di atas
permukaan Bumi.
4. Orbit Geostasioner (Geostationary Orbit, GEO): 35790 km di atas permukaan
Bumi.
5. Orbit Tinggi (High Earth Orbit, HEO): di atas 36000 km.

Jika ditinjau dari posisi relatif satelit terhadap bumi ada yag dinamakan
Geostasioner (geostationary). Orbit ini juga dikenal sebagai geosynchronous atau
synchronous. Ketinggian orbit ini kira-kira 22.223 mil atau 1/10 jarak ke bulan.
Jalur ini juga dikenal sebagai ”tempat parkir satelit”, sebab begitu banyak satelit,
mulai dar satelit cuaca, satelit komunikasi hingga satelit televisi. Akibatnya, posisi
masing-masing harus tepat agar tidak saling menginterferensi sinyal.




Berikut detil dari orbit satelit:
• 70 -1.200 mil (asynchronous orbits) : digunakan oleh satelit pengamat, yang
biasanya mengorbit pada 300 -600 mil (470-970 km), berfungsi sebagai fotografer.
Misalnya satelit Landsat 7, ia bertugas untuk pemetaan, pergerakan es dan tanah,
situasi lingkungan (semisal menghilangnya hutan hujan tropis), lokasi deposit
mineral hingga masalah pertanian; satelit SAR (search-and-rescue) juga disini,
dengan tugas menyiarkan ulang sinyal-sinyal darurat dari kapal laut atau pesawat
terbang yang dalam bahaya; Teledesic, yaitu satelit yang di-backup sepenuhnya
oleh Bill Gates, memberikan layanan komunikasi broadband (highspeed), dengan
sarana satelit yang mengorbit pada ketinggian rendah (LEO, Low Earth Orbiting).

• 3.000 -6.000 mil (asynchronous orbits) : digunakan oleh satelit sains, yang
biasanya berada pada ketinggian ini (4.700 -9.700 km), dimana mereka
mengirimkan data-data ke bumi via sinyal radio telemetri. Satelit ini berfungsi
untuk penelitian tanaman dan hewan, ilmu bumi, seperti memonitor gunung berapi,
mengawasi kehidupan liar, astronomi (dengan IAS, infrared astronomy satellite)
dan fisika.

• 6.000 -12.000 mil (asynchoronous orbits) : satelit GPS menggunakan orbit ini
untuk membantu penentuan posisi yang tepat. Ia bisa digunakan untuk kepentingan
militer maupun ilmu pengetahuan.

• 22.223 mil (geostationary orbits) : digunakan oleh satelit cuaca, satelit televisi,
satelit komunikasi dan telepon. (sumber : Gatot Santoso – ebook Sistem Komunikasi Satelit)
http://1.bp.blogspot.com/-XhEwx3Ftr2w/UmD1bQyHyXI/AAAAAAAAAIk/zyQg4ggiP0Y/s320/9.png


BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Kelebihan dan kekurangan Wireless dan Satelit
Sebelum menentukan mana yang lebih baik antara wireless atau satelit, mari kita lihat segi
keuntungan dan kekurangan di antara 2 media transmisi tersebut.
Keuntungannya wireless :
1. Dapat dipergunakan untuk komunikasi data dengan jarak yang jauh sekali. Tergantung
LOS (Line of Sight) dan kemampuan perangkat wireless dalam memancarkan
gelombang.

2. Sangat baik digunakan pada gedung yang sangat sulit menginstall kabel.

Kerugiannya :
1. Sulit diperoleh karena spektrum frekuensi terbatas.
2. Biaya instalasinya, operasional dan pemeliharaan sangat mahal.
3. Keamanan data kurang terjamin.
4. Pengaruh gangguan (derau) cukup besar.
5. Transfer data lebih lambat dibandingkan dengan penggunaan kabel.

Kelebihan satelit:
1. Tidak perlu LOS (Line of Sigth) dan tidak ada masalah dengan jarak dan koneksi dapat
dilakukan dimana saja.
2. Jarak jangkauan yang sangat luas
3. Komunikasi dapat dilakukan baik titik ke titik maupun dari satu titik ke banyak titik
secara broadcasting ataupun multicasting
4. Kecepatan bit akses tinggi dan memiliki bandwidth lebar.
5. VSAT bisa dipasang dimana saja selama masuk dalam jangkauan satelit,
6. Unjuk kerja sangat tinggi dan bisa digunakan untuk koneksi suara, video dan data, karna
memiliki bandwidth yang lebar

Kekurangan Media Satelite :
1. Up Front Cost tinggi: Contoh : untuk Satelit GEO: Spacecraft, Ground Segment &
Launch = US $ 200 jt, Asuransi: $ 50 jt.
2. Distance insensitive: Biaya komunikasi untuk jarak pendek maupun jauh relatif sama.
3. Hanya ekonomis jika jumlah User besar dan kapasitas digunakan secara intensif.
4. Delay propagasi besar.
5. Rentan terhadap pengaruh atmosfir
6. Besarnya throughput akan terbatasi karena delay propagasi satelit geostasioner. Kini
berbagai teknik protokol link sudah dikembangkan sehingga dapat mengatasi problem
tersebut.


3.2 Wireless atau Satelit ?
Ada beberapa Faktor yang menentukan pilihan media komunikasi data, yaitu :
1. Harga
2. Unjuk kerja (Performance) jaringan yang dikehendaki.

Jika ditinjau dari sudut teknik, faktor yang harus dipertimbangkan :
1. Kemampuan menghadapi gangguan elektris maupun magnetis dari luar.
2. Lebar jalur (bandwidth) yang sebaliknya juga tergantung pada jarak yang harus
dilayani.
3. Kemampuan dalam melayani multiple access, yaitu : apakah mudah mengambil data
dari padanya.
4. Keamanan data.

3.2.1 Harga
Jika dilihat dari segi harga, media wireless lebih murah dibandingkan media satelit, ini
dikarenakan media satelit harus menggunakan antenna khusus yang baik itu uplink
maupun downlink, yang bisa tergolong sangat mahal serta penyewaan koneksi ke satelit
yang disediakan oleh penyedia satelit. Sedangkan wireless bisa lebih murah, ini
disebabkan jumlah alat yang digunakan lebih tergantung pada jarak, dan keadaan LOS.

3.2.2 Unjuk Kerja
Unjuk kerja satelit lebih baik daripada wireless, ini disebabkan troughput satelit lebih
besar daripada wireless, sedangkan wireless jumlah troughput lebih dipengaruhi oleh
bearnya jarak dan LOS. Jika jarak besar serta tidak LOS maka besarnya troughput yang
dihasilkan lebih kecil.
Jika di kota-kota besar tentu banyak terdapat gedung-gedung tinggi yang memiliki
perbedaan tinggi dan jarak yang tidak terlalu jauh. Maka solusi wirelesslah yang paling
bagus dan jika gedung tersebut ingin terkoneksi maka dibuatlah koneksi secara Point To
Point, Point-To-Multipoint, Multipoint-To-Multipoint.

http://2.bp.blogspot.com/-DmHNM5AZI-o/UmD1_JfLj_I/AAAAAAAAAIs/iwWCq7n84Ds/s320/10.png
http://2.bp.blogspot.com/-YPtRsfkYbSo/UmD2ETpPByI/AAAAAAAAAI0/Lh8Jr9rE_dg/s320/11.png

Dalam menjangkau daerah yang amat jauh dari perkotaan, misalnya daerah pedesaan maupun
daerah terpencil lainnya, termasuk di tengah laut, maka orang merekayasa sistem wireless access yang
lain dengan menggunakan teknologi satelit. Dalam hal ini ada dua kemungkinan, pertama
menggunakan LEO (Low Earth Orbit Satellites) dan ke dua dengan GEO (Geosynchronous Orbit
Satellites).
Jika area yang perlu di covered sangat luas dan user yang sangat banyak, maka media tranmisi
satelitlah yang paling baik digunakan.

http://2.bp.blogspot.com/-UhkITkjLP3Y/UmD2VYnOSfI/AAAAAAAAAI8/qDoQ5EgrCqQ/s320/12.png
Gambar 1 : satelit mampu malayani banyak user

http://3.bp.blogspot.com/-xwD9USOb7UU/UmD2fv24L6I/AAAAAAAAAJE/O5LeNlfebXc/s320/13.png
Gambar 2 : satelit mampu melayani down-link yang jaraknya sangat jauh


Tidak ada komentar:

Posting Komentar